Kamis, 07 April 2011

Penanggulangan Bencana di Indonesia Masih Kurang

Seminar Penanggulangan Bencana di Jakarta (Foto/Okezone.com)
Berdasarkan pada bencana-bencana yang sudah melanda Indonesia sebelumnya, banyak pengamat yang menyayangkan kalau penanggulangan bencana dari pemerintah dirasa masih kurang, terlebih untuk bencana kegagalan teknologi.

Setelah kebocoran rekator nuklir di Fukushima, Jepang, akibat gempa, kecemasan semakin meningkat dari berbagai kalangan di Indonesia terutama untuk isu bencana kegagalan teknologi.
Berdasarkan UU nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, kegagalan teknologi itu sendiri masuk dalam kategori bencana nonalam. Tapi untuk bencana ledakan reaktor di Jepang adalah pengecualian, karena disebabkan oleh gempa bumi.

"Saya melihat kalau pemerintah masih belum serius dalam penanganan bencana," ujar Akbar Ali, Direktur Deputi dari WALHI, di acara diskusi publik 'Ancaman Bencana Kegagalan Teknologi' di Jakarta, Kamis (17/3/2011).

"Sampai saat ini saja, batasan indikator bencana saja belum jelas," timpal Sofyan dari Hijau Institute Indonesia.

"Ancaman dari bencana kegagalan teknologi ini pun akan menjadi semakin besar jika kita tidak waspada," ujar Arifin Purwakananta, Direktur Sumberdaya dari Dompet Dhuafa.

Akbar Ali dari WALHI pun mengatakan kalau ini semua karena diawali oleh metode pengenalan teknologi yang salah.

Llau yang menjadi perhatian akhir-akhir ini adalah rencana pembangunan PLTN di provinsi Bangka Belitung. Berkaca pada kejadian yang melanda Jepang, seharusnya pemerintah lebih waspada dalam rencana pembangunan tersebut, terlebih karena melibatkan teknologi tenaga nuklir.

"Yang paling ditakuti dari semua PLTN adalah kegagalan operasional. Mengingat resikonya yang besar, seharusnya pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengambil langkah ingin membangun sebuah PLTN. Saya rasa untuk saat ini kita belum membutuhkan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir," kata Akbar Ali.

Arifin Purwakananta menyatakan kalau ke depannya pemerintah dan instansi terkait harus membuat semacam peta kerawanan bencana teknologi, demi penanggulangan bencana yang lebih baik.
(rnd)

Tidak ada komentar: